Aceh Utara, DOBRAKPOST.COM | Masyarakat terdampak banjir di wilayah Kecamatan Baktiya menyayangkan proses penerimaan tim verifikasi pendataan rumah warga rusak ringan, sedang, hingga berat yang dinilai tidak memprioritaskan putra-putri daerah. Kondisi ini memicu kekecewaan, terutama di kalangan pemuda lokal yang juga merupakan korban bencana.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa dalam proses rekrutmen tersebut, keterlibatan tenaga dari luar daerah justru lebih dominan. Padahal, banyak putra-putri daerah di Kecamatan Baktiya yang sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menopang ekonomi keluarga pascabanjir.
“Ironis. Kami ini korban banjir juga, butuh pekerjaan, dan lebih paham kondisi di lapangan. Tapi malah seperti hanya jadi penonton di kampung sendiri,” ujar salah satu pemuda setempat.
Padahal, keterlibatan warga lokal dinilai akan mempermudah proses pendataan. Selain lebih mengenal wilayah Kecamatan Baktiya dan warga terdampak, putra-putri daerah juga memahami kondisi sosial serta medan di lapangan.
Bahkan, pihak kecamatan disebut berharap agar proses rekrutmen dapat mengutamakan tenaga lokal selama memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Masyarakat menegaskan tidak menolak kehadiran tenaga dari luar daerah. Namun, mereka mempertanyakan kebijakan yang dinilai kurang sensitif terhadap kondisi sosial warga terdampak. “Kalau putra-putri daerah ada, mampu, dan layak, kenapa justru orang luar yang lebih dulu masuk ke wilayah kami?” lanjutnya.
Warga berharap pihak BNPB dapat mengevaluasi mekanisme rekrutmen tim verifikasi di Kecamatan Baktiya agar lebih adil, transparan, dan berpihak pada masyarakat lokal. Menurut mereka, proses pemulihan pascabencana seharusnya tidak hanya soal pendataan fisik kerusakan, tetapi juga membuka ruang pemulihan ekonomi bagi korban bencana di daerah.
Upaya konfirmasi kepada pihak BNPB Aceh Utara telah dilakukan melalui pesan WhatsApp melalui no 0812-4154-2xxx Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada respons resmi yang diberikan dan memilih Untuk tidak menjawab. (Zulfikar)









