Lhokseumawe, DOBRAKPOST.COM | Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Lhokseumawe, Ibnu Sina, menyayangkan kondisi Tugu Perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan Tentara Jepang di Gampong Keude Cunda, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, yang dinilai kumuh dan tidak mendapat perawatan.
Tugu yang berada di jalur utama menuju pusat Kota Lhokseumawe itu merupakan salah satu penanda sejarah perjuangan rakyat Aceh pada masa awal kemerdekaan. Namun, kondisi fisiknya saat ini dinilai tidak mencerminkan nilai sejarah yang melekat pada monumen tersebut.
Ibnu Sina mengatakan, keberadaan tugu tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terlebih lokasinya berada di kawasan yang ramai dan menjadi salah satu pintu masuk menuju pusat kota.
“Kami sangat menyayangkan kondisi Tugu Perlawanan TKR ini. Letaknya sangat strategis di pintu masuk menuju pusat Kota Lhokseumawe dan menjadi salah satu pemandangan pertama bagi masyarakat maupun orang yang datang ke kota ini,” kata Ibnu Sina.
Menurutnya, kondisi tugu yang tidak terawat berpotensi mengaburkan nilai sejarah perjuangan yang seharusnya terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
“Jangan sampai keberadaan tugu perjuangan hanya menjadi simbol tanpa perhatian. Kondisi seperti ini seakan menunjukkan bahwa penghormatan terhadap jasa para pejuang belum diwujudkan dalam bentuk perawatan yang nyata,” ujarnya, (27/09/26).
Tugu tersebut menjadi penanda perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI), terhadap pasukan Jepang yang masih bertahan di Aceh pada masa transisi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Monumen yang berada di kawasan Peukan Cunda, tepatnya di jalan masuk menuju pusat Pasar Cunda, juga menjadi pengingat keterlibatan masyarakat Pase dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia pada masa awal berdirinya republik.
Ibnu Sina bersama Kepala Perwakilan YARA Aceh Utara, Nisa Ulfitri, dan Kepala Perwakilan YARA Aceh Besar, M Nur, meninjau langsung kondisi tugu tersebut.
Dari hasil peninjauan, mereka menilai kondisi fisik dan lingkungan sekitar tugu perlu segera mendapat perhatian dan pembenahan.
“Kami sudah melihat langsung kondisinya dan memang terlihat kumuh serta tidak terawat. Karena itu, kami meminta kepada Wali Kota Lhokseumawe agar memberikan perhatian serius, melakukan perbaikan dan perawatan terhadap tugu ini,” tegas Ibnu.
Ia menilai perawatan monumen sejarah bukan hanya mempercantik kawasan kota, tetapi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah dan menghormati jasa para pejuang yang telah berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Merawat tugu ini berarti merawat sejarah. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengetahui perjuangan para pendahulu dari buku, sementara peninggalan sejarah yang ada di depan mata justru dibiarkan terbengkalai,” pungkasnya.










