ACEH UTARA, DOBRAKPOST — Ketika berbicara tentang pembangunan ekonomi, perhatian sering kali tertuju kepada pusat kota, investasi besar dan proyek infrastruktur.
Namun di Aceh Utara, denyut ekonomi justru banyak bergerak dari gampong.
Dari sawah para petani, tambak masyarakat pesisir, kebun, peternakan hingga usaha kecil yang dikelola keluarga.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., atau Ayahwa, mendorong agar potensi tersebut tidak dipandang sebagai sektor pelengkap, melainkan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi daerah.
Salah satu perkembangan terbaru terlihat dari sektor perikanan budidaya. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mencatat sebanyak 235 petani tambak menjadi bagian dari pelopor penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor perikanan. Kebijakan tersebut memperluas perhatian pemerintah terhadap kebutuhan produksi masyarakat tambak.
Bagi daerah yang memiliki kawasan pesisir luas, kebijakan terhadap petani tambak memiliki arti penting.
Biaya produksi menjadi salah satu persoalan yang langsung dirasakan pembudidaya. Karena itu, dukungan terhadap sarana produksi diharapkan dapat membantu masyarakat mempertahankan produktivitas.
Di sisi lain, sektor pertanian, peternakan dan UMKM juga menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat Aceh Utara.
Pemerintah daerah tidak mungkin membangun ekonomi hanya dari atas. Pemerintah harus mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat di lapangan.
Itulah sebabnya pendekatan Ayahwa juga terlihat melalui pertemuan langsung dengan masyarakat.
Pada September 2026, misalnya, Ayahwa menggelar coffee morning bersama ulama dan tokoh masyarakat Tanah Jambo Aye di Panton Labu. Forum tersebut menjadi ruang bagi pemerintah daerah untuk mendengar aspirasi sekaligus mendiskusikan persoalan masyarakat.
Cara seperti itu penting bagi pemerintahan daerah.
Sebab kebijakan yang baik tidak hanya lahir dari ruang rapat.
Kebijakan juga harus mendengar suara petani, pedagang, nelayan, pelaku UMKM, tokoh masyarakat dan masyarakat gampong.
Aceh Utara memiliki wilayah yang luas dengan karakter ekonomi yang berbeda-beda. Persoalan masyarakat pesisir tentu tidak selalu sama dengan masyarakat pedalaman.
Karena itu, pembangunan membutuhkan pendekatan yang tidak seragam.
Bagi Ayahwa, tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi lokal tersebut dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Petani tidak hanya menjual hasil panen.
Petambak tidak hanya menjual hasil tambak.
Pelaku UMKM tidak hanya memproduksi barang.
Semua sektor perlu didorong agar terhubung dengan pasar, teknologi dan jaringan distribusi yang lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga mulai melihat produk UMKM sebagai bagian dari identitas daerah. Sejumlah produk lokal, termasuk makanan olahan, mulai diarahkan agar memiliki daya jual sebagai produk khas Aceh Utara.
Pembangunan ekonomi akhirnya bukan hanya tentang pertumbuhan angka.
Ia berbicara tentang apakah petani mampu meningkatkan pendapatan, apakah pedagang memiliki pasar, apakah petambak dapat menekan biaya produksi, apakah UMKM mampu berkembang dan apakah anak muda melihat peluang usaha di daerah sendiri.
Dari gampong, pembangunan itu dimulai.
Dan dari sanalah Ayahwa ingin ekonomi Aceh Utara terus bergerak.
ADVETORIAL











