ACEH UTARA, DOBRAKPOST — Jalan pembangunan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak gedung yang dibangun hari ini.
Masa depan jauh lebih banyak ditentukan oleh anak-anak yang sedang duduk di bangku sekolah.
Karena itu, pendidikan menjadi investasi jangka panjang bagi Aceh Utara.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada 2026 menjalankan berbagai agenda pendidikan, termasuk penanganan pembelajaran pascabencana, penguatan pendidikan berbasis nilai dan pembenahan layanan pendidikan.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil atau Ayahwa juga memberikan perhatian terhadap agenda pendidikan dan penguatan sumber daya manusia.
Salah satu langkah yang menonjol adalah alokasi anggaran Rp8,55 miliar untuk pengadaan 45.018 mushaf Al-Qur’an bagi siswa di Aceh Utara. Program tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap pendidikan agama di daerah.
Kebijakan pendidikan di Aceh Utara juga tidak bisa dilepaskan dari karakter daerah.
Pendidikan umum harus berjalan.
Pendidikan agama harus kuat.
Dan karakter generasi muda harus dibangun.
Hal itu menjadi semakin penting ketika Aceh Utara sedang berusaha menghidupkan kembali identitas sejarah Samudera Pasai.
Generasi muda yang tidak mengenal sejarah daerahnya akan sulit memahami mengapa warisan budaya harus dijaga.
Karena itu, momentum Milad Samudera Pasai ke-800 juga memberikan ruang luas bagi anak-anak muda dan pelajar untuk terlibat dalam berbagai kegiatan budaya dan keagamaan.
Pendidikan juga harus tetap berjalan ketika bencana datang.
Pasca banjir, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara menerapkan pembelajaran darurat dengan mengutamakan keselamatan siswa.
Ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak boleh berhenti karena kondisi darurat.
Sekolah dapat rusak.
Ruang kelas dapat terendam.
Tetapi proses pendidikan harus tetap dicari jalannya.
Karena kehilangan waktu belajar juga memiliki dampak panjang.
Ayahwa memiliki pekerjaan besar untuk memastikan sektor pendidikan tidak hanya menjadi urusan Dinas Pendidikan.
Pendidikan harus menjadi agenda seluruh pemerintahan.
Mulai dari kesehatan anak, perlindungan sosial, lingkungan, fasilitas olahraga, literasi digital hingga pendidikan karakter.
Sebab generasi Aceh Utara masa depan akan menjadi orang yang menentukan ke mana daerah ini bergerak.
Mereka yang hari ini belajar di sekolah akan menjadi petani, dokter, guru, pengusaha, birokrat, ulama, profesional hingga pemimpin daerah.
Investasi terhadap mereka mungkin tidak langsung terlihat hasilnya.
Namun justru di sanalah pembangunan paling panjang sedang berlangsung. ADV











