ACEH UTARA, DOBRAKPOST— Ada daerah yang membangun masa depan dengan melupakan masa lalu.
Aceh Utara justru memiliki alasan untuk melakukan sebaliknya.
Di tanah inilah sejarah Samudera Pasai meninggalkan jejak besar. Delapan abad kemudian, pemerintah dan masyarakat kembali mengingatnya melalui Milad Samudera Pasai ke-800.
Namun bagi Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil atau Ayahwa, sejarah tidak boleh berhenti sebagai nostalgia.
Sejarah harus menjadi pijakan.
Itulah salah satu pesan yang mengemuka dalam rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800 yang berlangsung September 2026. Rangkaian kegiatan tersebut ditutup pada 13 September 2026 dengan pesan agar masyarakat menjaga keuneubah indatu.
Dari sejarah, Aceh Utara memiliki identitas.
Dari masyarakat, Aceh Utara memiliki kekuatan.
Dan dari pemerintahan, daerah membutuhkan arah.
Tantangan yang dihadapi Aceh Utara tentu tidak sedikit.
Bencana telah menguji ketahanan masyarakat.
Pemulihan membutuhkan waktu.
Ekonomi harus terus digerakkan.
Pendidikan harus diperkuat.
Pelayanan kesehatan harus diperbaiki.
Infrastruktur harus dibangun.
Birokrasi harus bekerja.
Dan perkembangan teknologi tidak boleh diabaikan.
Karena itu, kepemimpinan Ayahwa dalam periode pemerintahan sekarang menghadapi pekerjaan yang saling berkaitan.
Penanganan bencana misalnya, tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Pemerintah harus memastikan warga kembali memiliki hunian dan kehidupan yang layak. Pada September 2026, bantuan Isi Hunian dan Jaminan Hidup Tahap IV senilai Rp328,456 miliar disalurkan kepada korban banjir melalui Pemkab Aceh Utara.
Di bidang ekonomi, perhatian mulai diarahkan kepada sektor-sektor produktif masyarakat, termasuk petani tambak yang menjadi bagian penting ekonomi pesisir.
Di bidang teknologi, Ayahwa melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memperkuat infrastruktur dan layanan digital daerah.
Sementara di bidang sejarah dan kebudayaan, pemerintah mengangkat kembali Samudera Pasai sebagai identitas besar Aceh Utara.
Jika semua itu disatukan, terlihat satu kebutuhan besar: Aceh Utara membutuhkan pembangunan yang tidak berjalan sendiri-sendiri.
Bencana berkaitan dengan tata ruang.
Ekonomi berkaitan dengan infrastruktur.
Pendidikan berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia.
Digitalisasi berkaitan dengan pelayanan publik.
Sejarah berkaitan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dan seluruhnya berkaitan dengan kualitas pemerintahan.
Di sinilah tantangan Ayahwa ke depan.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan janji pembangunan.
Mereka membutuhkan hasil yang dapat dirasakan.
Pemerintah juga tidak cukup hanya hadir ketika persoalan muncul.
Pemerintah harus mampu membangun sistem agar persoalan yang sama dapat ditangani dengan lebih baik pada masa mendatang.
Delapan ratus tahun Samudera Pasai telah berlalu.
Tetapi sejarah belum selesai.
Generasi hari ini sedang menulis halaman berikutnya.
Dan pekerjaan pemerintah adalah memastikan halaman tersebut berisi pembangunan, pelayanan, kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Aceh Utara.
Dari jejak Samudera Pasai, Aceh Utara menatap masa depan.
Bukan dengan melupakan sejarah.
Tetapi dengan menjadikannya pijakan untuk bergerak lebih jauh. ADV











