ACEH UTARA, DOBRAKPOST — Tidak semua perjalanan pembangunan dimulai dari kondisi yang ideal.
Ada daerah yang harus membangun setelah bencana. Ada masyarakat yang harus kembali menata kehidupan setelah kehilangan rumah dan sumber penghasilan.
Ada pula pemerintah yang harus bekerja di tengah keterbatasan anggaran, luasnya wilayah dan beragamnya persoalan masyarakat.
Aceh Utara berada dalam situasi itu.
Namun di tengah berbagai tantangan tersebut, roda pemerintahan tidak boleh berhenti.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., atau yang lebih dikenal dengan sapaan Ayahwa, memilih untuk tetap bergerak.
Bagi Ayahwa, pembangunan Aceh Utara bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan hanya dengan satu program atau satu kebijakan. Dibutuhkan kerja panjang, koordinasi dan keberanian untuk turun langsung melihat persoalan masyarakat.
Banjir menjadi salah satu ujian terbesar.
Ketika air surut, persoalan justru semakin panjang. Rumah harus dibangun kembali, masyarakat membutuhkan bantuan, fasilitas umum harus dipulihkan dan roda ekonomi harus kembali berjalan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara kemudian mendorong proses pemulihan melalui berbagai skema bantuan, termasuk bantuan isi hunian dan jaminan hidup bagi masyarakat terdampak.
Pada September 2026, bantuan Isi Hunian Rumah dan Jaminan Hidup Tahap IV senilai Rp328,456 miliar disalurkan kepada korban banjir melalui Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Bagi pemerintah, angka itu adalah nilai bantuan.
Bagi masyarakat, maknanya jauh lebih besar.
Itu adalah kesempatan untuk kembali menata rumah, mengisi kembali kehidupan yang sempat porak-poranda dan memulai hari esok dengan harapan.
Namun Aceh Utara tidak boleh hanya berbicara tentang bencana.
Daerah ini memiliki sejarah yang jauh lebih panjang.
Delapan abad lalu, Samudera Pasai menjadi salah satu pusat penting perdagangan dan peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara.
Delapan ratus tahun kemudian, sejarah itu kembali diangkat ke ruang publik.
Ayahwa menjadikan Milad Samudera Pasai ke-800 sebagai momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa Aceh Utara memiliki warisan besar yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Seni, budaya, sejarah dan tradisi kembali mendapatkan ruang.
Bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi untuk membangun identitas.
Sebab daerah yang mengenal sejarahnya akan lebih mudah menentukan ke mana ia ingin berjalan.
Di sisi lain, kehidupan masyarakat hari ini tetap menjadi perhatian.
Petani membutuhkan dukungan.
Petambak membutuhkan kepastian.
Pelaku UMKM membutuhkan pasar.
Pemuda membutuhkan ruang.
Anak-anak membutuhkan pendidikan.
Dan masyarakat membutuhkan pelayanan pemerintah yang mudah diakses.
Pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan hanya dari balik meja.
Karena itu, Ayahwa beberapa kali memilih bertemu langsung dengan masyarakat.
Forum masyarakat, pertemuan dengan ulama dan tokoh daerah hingga coffee morning menjadi ruang untuk mendengar persoalan yang tidak selalu tertulis dalam laporan resmi.
Bagi seorang kepala daerah, mendengar adalah bagian dari bekerja.
Sebab masyarakatlah yang merasakan langsung apakah sebuah kebijakan benar-benar berjalan.
Aceh Utara juga sedang memasuki era baru pemerintahan.
Digitalisasi menjadi kebutuhan.
Pelayanan publik tidak lagi cukup hanya mengandalkan cara-cara lama. Masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, pelayanan yang mudah dan pemerintah yang responsif.
Ayahwa pun mendorong penguatan infrastruktur dan layanan digital melalui koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya menyiapkan Aceh Utara menghadapi perubahan zaman.
Namun pembangunan bukan hanya tentang teknologi.
Pembangunan tetap membutuhkan manusia.
Karena itu, pendidikan menjadi bagian penting dari agenda daerah.
Anak-anak Aceh Utara hari ini adalah generasi yang akan menentukan wajah daerah ini beberapa dekade mendatang.
Mereka yang sekarang belajar di sekolah kelak akan menjadi guru, dokter, pengusaha, petani modern, profesional, birokrat hingga pemimpin.
Membangun mereka berarti membangun Aceh Utara untuk puluhan tahun ke depan.
Inilah pekerjaan besar yang sedang berjalan.
Tidak semuanya langsung terlihat.
Sebagian bahkan tidak menghasilkan foto seremoni.
Tetapi pembangunan memang tidak selalu tentang seremoni.
Kadang pembangunan adalah ketika seorang korban banjir kembali menempati rumahnya.
Ketika seorang petani kembali menggarap sawah.
Ketika petambak mampu kembali menebar bibit.
Ketika anak-anak kembali ke sekolah.
Ketika pelayanan pemerintah menjadi lebih mudah.
Dan ketika generasi muda mulai bangga dengan sejarah daerahnya.
Di tengah semua proses itu, Ayahwa menghadapi satu pekerjaan besar: memastikan pemerintah tetap hadir dan bergerak.
Aceh Utara masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
Tetapi setiap daerah yang ingin maju memang harus melewati proses.
Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada pembangunan yang selesai dalam satu malam.
Yang dibutuhkan adalah konsistensi.
Dari bencana menuju pemulihan.
Dari sejarah menuju identitas.
Dari potensi menuju ekonomi.
Dari birokrasi menuju pelayanan.
Dan dari generasi hari ini menuju masa depan.
Aceh Utara sedang menjalani perjalanan itu.
Dan di bawah kepemimpinan Ayahwa, perjalanan tersebut sedang diarahkan pada satu tujuan: membangun kembali kepercayaan, menggerakkan ekonomi masyarakat dan menjadikan potensi daerah sebagai kekuatan untuk masa depan.
Karena Aceh Utara bukan hanya tentang apa yang pernah dimilikinya 800 tahun lalu. Aceh Utara juga tentang apa yang mampu dibangunnya hari ini untuk 800 tahun yang akan datang. ADV












