ACEH UTARA, DOBRAKPOST— Delapan abad bukan waktu yang pendek. Di tanah yang kini bernama Aceh Utara, sejarah Kesultanan Samudera Pasai telah meninggalkan jejak panjang tentang perdagangan, Islam, kebudayaan dan peradaban. Namun sejarah tidak akan hidup hanya karena nama-nama besar ditulis dalam buku.
Sejarah harus dikenalkan kembali kepada generasi berikutnya.
Gagasan itulah yang terlihat dalam rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800 yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada September 2026.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil atau Ayahwa menjadikan momentum 800 tahun Samudera Pasai bukan hanya sebagai seremoni pemerintahan. Berbagai kegiatan dikemas untuk mempertemukan sejarah dengan masyarakat masa kini.
Ada jalan santai, kegiatan budaya, pertunjukan seni, kegiatan keagamaan hingga berbagai agenda yang melibatkan masyarakat.
Ribuan warga ikut ambil bagian dalam kegiatan jalan santai yang dilepas langsung Ayahwa. Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengajak masyarakat menjaga sejarah, syariat dan warisan leluhur Samudera Pasai.
Pesan itu menjadi penting karena Aceh Utara tidak hanya memiliki sejarah untuk dibanggakan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merawat peninggalannya.
Pemerintah daerah juga mendorong keterlibatan generasi muda. Seni tradisi, rapai, seudati, ratoeh jaroe dan berbagai ekspresi kebudayaan ditempatkan sebagai bagian dari perayaan sejarah tersebut.
Bahkan penemuan makam kuno yang diperkirakan memiliki kaitan dengan peradaban Islam dan Kesultanan Samudera Pasai di kawasan Cot Girek menambah perhatian terhadap kekayaan sejarah Aceh Utara.
Ayahwa melihat sejarah bukan sebagai masa lalu yang harus disimpan dalam museum.
Sejarah dapat menjadi identitas.
Identitas dapat menjadi kebanggaan.
Dan kebanggaan dapat menjadi modal sosial untuk membangun daerah.
Karena itu, momentum 800 tahun Samudera Pasai juga memiliki dimensi ekonomi. Ketika masyarakat datang, pedagang bergerak, pelaku UMKM mendapatkan ruang, pelaku seni tampil dan kawasan sejarah kembali ramai dikunjungi, maka sejarah secara tidak langsung ikut menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sinilah pemerintah daerah berusaha memperluas makna sebuah peringatan.
Bukan hanya siapa yang hadir di panggung, tetapi apa yang tersisa setelah panggung dibongkar.
Apakah anak-anak muda semakin mengenal sejarah daerahnya?
Apakah situs sejarah semakin diperhatikan?
Apakah masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi?
Dan apakah Samudera Pasai kembali menjadi identitas yang melekat dalam percakapan tentang Aceh Utara?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan berikutnya.
Rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800 resmi ditutup pada 13 September 2026. Dalam penutupan itu, Ayahwa kembali mengajak masyarakat menjaga keuneubah indatu, warisan leluhur yang menjadi bagian penting dari identitas Aceh Utara.
Bagi Ayahwa, 800 tahun bukan sekadar angka.
Itu adalah pengingat bahwa Aceh Utara memiliki sejarah panjang.
Dan tugas generasi hari ini adalah memastikan sejarah tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan menjadi pijakan untuk menulis masa depan.
ADVETORIAL











